Di Balik Keriuhan HUT RI ke-81: Ketika Prajurit Kodam Jaya Mengganti Senjata dengan Sapu Lidi di Monas
News, Jakarta, – Lampu-lampu sorot di pelataran Monumen Nasional (Monas) mulai meredup. Riuh rendah lagu kebangsaan dan tepuk tangan perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI telah berganti menjadi hening malam Jakarta, Senin (17/8/2026). Namun, bagi 400 personel Kodam Jaya, tugas mereka belum usai.
Jika siang hari mereka berdiri tegak menjaga ketertiban dengan seragam dinas lengkap, malam itu mereka tampil berbeda. Bersama personel Polri dan petugas PPSU, para prajurit itu membungkuk, memungut sisa-sisa kertas, plastik, dan sampah bekas perayaan yang tertinggal di rerumputan dan trotoar Monas.
Tidak ada komando keras. Hanya ada suara gesekan sapu lidi dan desau angin malam yang menemani kerja bakti massal tersebut. Aksi ini bukan sekadar prosedur pembersihan rutin, melainkan sebuah pernyataan sikap: bahwa pengabdian seorang prajurit tidak berhenti pada batas aman-tidaknya sebuah acara.
“Kami ingin memastikan bahwa setelah pesta kemerdekaan selesai, ruang publik ini tetap layak dan nyaman untuk dinikmati kembali oleh masyarakat,” kata salah satu perwira Kodam Jaya yang turut turun langsung, sambil menyeka keringat di dahinya.
Monas, sebagai jantung simbolik Indonesia, sering kali menjadi saksi bisu euforia massa. Namun, euforia itu kerap meninggalkan jejak berupa tumpukan sampah. Kehadiran TNI, Polri, dan PPSU secara bersinergi malam itu menjadi pengingat halus tentang tanggung jawab bersama. Bahwa merawat ikon bangsa bukan hanya tugas pemerintah kota, tetapi juga bentuk cinta tanah air yang paling sederhana.
Gerakan memungut sampah itu mungkin terlihat sepele dibandingkan dengan parade militer atau upacara kenegaraan. Namun, di situlah letak pesannya. Kemerdekaan yang sejati tidak hanya dirayakan dengan sorak-sorai, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan semangat gotong royong yang tak kenal lelah.
Saat fajar menyingsing Selasa pagi, Monas akan kembali bersih. Dan di balik kebersihan itu, tersimpan cerita tentang 400 prajurit yang memilih untuk tidak segera pulang, melainkan memberikan hadiah terakhir bagi ibu kota: sebuah ruang yang bersih, rapi, dan penuh makna. (Egi)






