Tim Seskoad Serap Aspirasi Warga Lampung Timur untuk Cari Solusi Karhutla

IMG-20260904-WA0011

NEWS, LAMPUNG TIMUR — Upaya mencari solusi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Lampung Timur, Lampung, dilakukan Tim Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) dengan melibatkan masyarakat secara langsung.

Sebanyak 14 Perwira Siswa (Pasis) Seskoad Dikreg LXIV yang tergabung dalam Tim KKL diterjunkan ke sejumlah wilayah di Lampung Timur. Mereka tidak hanya berdialog dengan pemerintah daerah dan aparat, tetapi juga mendatangi masyarakat untuk menggali persoalan karhutla dari sisi lapangan.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari KKL Seskoad yang dilaksanakan di tiga wilayah utama yang terdampak karhutla, yakni Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, dan Lampung.

Untuk Provinsi Lampung, kegiatan KKL berlangsung di lima wilayah, yakni Kota Metro, Kabupaten Lampung Timur, Lampung Barat, Way Kanan, dan Tanggamus.

Tim KKL Lampung dipimpin Kolonel Inf. Hasroel Thamim dan melaksanakan kegiatan selama 10 hari, mulai 28 Agustus hingga 6 September 2026.

Agenda tersebut dibagi dalam dua kegiatan. Lima hari pertama difokuskan pada KKL Wilayah Pertahanan (Wilhan) di Kodim 0429/Lampung Timur. Selanjutnya, lima hari berikutnya diarahkan pada KKL Pembinaan Satuan (Binsat) di Yonif TP 943/DPC yang dipadukan dengan kegiatan penyuluhan karhutla.

Selama berada di Lampung Timur, para Pasis Seskoad melakukan pengumpulan data dan berdialog dengan berbagai pihak. Di antaranya Bupati Lampung Timur, Polres Lampung Timur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta unsur teknis lainnya.

Dari hasil pemetaan dan data yang dihimpun, luas wilayah yang terdampak karhutla di Lampung Timur tercatat mencapai sekitar 1.721,23 hektare. Kebakaran tersebar di sejumlah desa, antara lain Braja Harjo Sari, Braja Kencana, Rantau Jaya, Karanganyar, Toto Projo, Rantau Jaya Udik, Tambah Dadi, dan Labuhan Ratu.

Namun, bagi Tim Seskoad, data tersebut bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Aspirasi masyarakat yang berada langsung di sekitar lokasi rawan kebakaran juga menjadi bagian penting dalam mencari solusi.

Karena itu, dialog dua arah dilakukan bersama warga di sekitar Koramil 429-05/Sukadana dan Desa Rantau Jaya Udik 2 (RJU 2). Tim juga bertemu dengan tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, serta komunitas lokal.

Dalam dialog tersebut, Kepala Desa Toto Projo mengusulkan pembangunan sumur bor yang dilengkapi selang di sejumlah titik rawan karhutla.

Menurut masyarakat, penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan penyuluhan. Warga membutuhkan dukungan sarana dan prasarana yang memungkinkan mereka melakukan tindakan cepat ketika kebakaran terjadi.

Ketersediaan sumber air dan peralatan pemadam yang memadai dinilai penting, terutama untuk menjangkau titik api yang berada di kawasan hutan dan lahan yang sulit diakses.

Pendekatan langsung yang dilakukan para Pasis Seskoad mendapat apresiasi dari masyarakat, komunitas, maupun unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Lampung Timur.

Kehadiran mereka di tengah masyarakat dinilai memberikan ruang bagi warga untuk menyampaikan persoalan secara langsung, sekaligus mempertemukan kebutuhan di lapangan dengan upaya penanganan yang dilakukan pemerintah dan aparat.

Selain berdialog mengenai karhutla, para Pasis juga membangun kedekatan dengan masyarakat melalui kegiatan sosial. Di sela agenda KKL, mereka bergotong royong bersama warga membersihkan tempat ibadah dan masjid di lingkungan setempat.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara TNI dan masyarakat, sekaligus menunjukkan bahwa penanganan persoalan di daerah membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

Melalui KKL tersebut, Seskoad diharapkan tidak hanya memperoleh gambaran mengenai kondisi pertahanan dan pembinaan satuan di wilayah, tetapi juga masukan konkret dari masyarakat untuk mendukung penanganan karhutla secara lebih cepat dan efektif.

(Egi)