Lurah dan Sekcam Pondok Melati kepala UPTD BMDSA Tinjau Kali di Jatimurni, Usulkan Rp850 Juta Atasi Banjir Permanen
News, Bekasi, – Menindaklanjuti keluhan warga terkait banjir yang melanda wilayah Pondok Jatimurni pasca-hujan deras pada pertengahan April lalu, Pemerintah Kota Bekasi melalui tim gabungan Dinas UPTD MSMDA, Bidang Tata Air, dan Dinas BBM melakukan kunjungan lapangan hari ini, Rabu (22/7). Kunjungan strategis ini dipimpin langsung oleh Lurah setempat bersama Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Pondok Melati untuk memetakan solusi permanen
Menurut Lurah Adhi
Berdasarkan hasil survei di lapangan, tim menemukan sejumlah kendala teknis yang memperparah genangan. Saluran air di lokasi tersebut banyak yang tersumbat sedimen lumpur dan sampah. Selain itu, keberadaan gorong-gorong berukuran kecil serta jaringan utilitas bawah tanah (kabel listrik dan pipa air) yang padat membuat normalisasi saluran menjadi tantangan tersendiri.ujarnya .
“Kondisi di lapangan menunjukkan banyak jaringan utilitas yang harus dipetakan ulang sebelum alat berat turun. Kita tidak bisa sembarangan menggali karena ada kabel-kabel listrik dan saluran air yang mampet,” ujar perwakilan tim BMSDA

Kehadiran Lurah dan Sekcam dalam tinjauan ini memberikan jaminan koordinasi yang lebih cepat antara pemerintah daerah tingkat kecamatan/kelurahan dengan dinas teknis kota, terutama dalam hal pembebasan lahan dan pengamanan aset warga selama proses konstruksi nanti.
Sebagai solusi jangka menengah dan panjang, Pemkot berencana membangun kolam retensi atau kolam olak untuk menampung debit air berlebih. Langkah ini didukung oleh kepedulian warga, di mana salah satu warga setempat telah menghibahkan tanahnya seluas 700 meter persegi untuk pembangunan infrastruktur pengendali banjir tersebut.
dan mengusulkan Rp850 Juta Atasi Banjir Permanen
Rencana pembangunan mencakup perbaikan pompa, pembuatan jembatan akses, serta normalisasi saluran air agar aliran dari RW 7, RW 3, dan RW 4 dapat mengalir lancar menuju titik buangan akhir.
Selain lahan hibah 700 meter, tim juga sedang menjajaki lahan milik pribadi lain yang lebih luas, yakni hampir 2.000 meter persegi. Lahan ini diusulkan untuk dikembangkan menjadi area penampungan air yang lebih besar guna mengatasi masalah banjir di Perumahan Griya yang sering menjadi “kantong” genangan karena posisinya sebagai muara akhir aliran air dari wilayah sekitarnya.
Pihaknya menyatakan bahwa proses pembersihan saluran air akan segera dilakukan sebelum eksekusi pembangunan fisik. “Minggu depan, kita akan mulai menarik garis jalur pembuangan air atau ‘tali air’ sepanjang hampir 1 kilometer. Sebelum alat berat bekerja, kami akan bersihkan dulu salurannya dan koordinasi dengan pemilik lahan untuk lahan 2.000 meter tersebut,” jelasnya.
Dengan usulan anggaran Rp850 juta, pemerintah berharap infrastruktur baru ini dapat menyelesaikan masalah banjir secara tuntas. Warga pun menyambut positif rencana ini, dengan harapan utama agar debit air terkendali, saluran tertutup rapi sehingga tidak menjadi tempat sampah, dan lingkungan permukiman kembali aman dari ancaman genangan.
Turut hadir dalam peninjauan tersebut adalah perwakilan dari RW 7 Pondok Jatimurni serta jajaran teknis terkait. Fokus utama kunjungan adalah di area perbatasan RW 7 dan RW 3, serta kondisi drainase di RT 6 RW 3 yang berbatasan langsung dengan area Perumahan Griya (RW 5).
(Egi)






