Operasional Pelabuhan Bitung dan Ternate Pulih Total Pasca Gempa Dahsyat 7,6 SR

Screenshot_2026-04-03-09-33-10-00_e307a3f9df9f380ebaf106e1dc980bb6

Newsbarito, Surabaya – Aktivitas bongkar muat di Terminal Peti Kemas (TPK) Bitung, Sulawesi Utara, dan TPK Ternate, Maluku Utara, telah kembali berjalan normal pada Kamis (2/4/2026).

Pemulihan ini terjadi setelah operasional kedua terminal strategis tersebut dihentikan sementara selama kurang lebih lima jam akibat guncangan gempa bumi berkekuatan 7,6 Skala Richter yang mengguncang wilayah perairan tenggara Bitung pagi tadi.

Penghentian operasi dilakukan sebagai langkah mitigasi darurat untuk menjamin keselamatan seluruh pekerja dan mencegah risiko kecelakaan saat gempa berlangsung.

Langkah penghentian operasional ini diambil secara cepat oleh manajemen PT Pelindo Terminal Petikemas sejalan dengan dikeluarkannya peringatan dini tsunami oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Selama jeda waktu tersebut, tim teknis melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap integritas fasilitas pelabuhan, termasuk dermaga, alat berat, dan area penumpukan kontainer.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menegaskan bahwa prosedur ini merupakan prioritas utama untuk memastikan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terpenuhi sebelum aktivitas dilanjutkan.

“Kami sempat menghentikan operasional sebagai langkah mitigasi untuk memastikan keselamatan pekerja serta melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap fasilitas pasca gempa. Setelah seluruh aspek dinyatakan aman melalui asesmen ketat, saat ini operasional di TPK Bitung dan TPK Ternate telah kembali berjalan normal dan terkendali,” ujar Widyaswendra

dalam siaran resminya. Ia menambahkan bahwa koordinasi intensif terus dijalin dengan BMKG dan instansi terkait untuk memantau perkembangan situasi terkini.

Hasil pemeriksaan di lapangan menunjukkan bahwa fasilitas utama di TPK Ternate berada dalam kondisi sangat baik. Peralatan vital seperti Quay Container Crane (QCC) tidak mengalami pergeseran, demikian pula struktur dermaga, Container Yard (CY), gerbang keluar-masuk, dan bangunan kantor yang tetap kokoh. Kerusakan yang teridentifikasi bersifat sangat minor, yakni retakan kecil pada dinding terminal penumpang, yang dipastikan tidak menghambat laju operasional logistik secara keseluruhan.

Sementara itu, situasi di TPK Bitung menunjukkan pemulihan bertahap setelah tim teknis menemukan beberapa titik kerusakan yang memerlukan penanganan segera. Temuan tersebut meliputi kerusakan pada rel QCC di Dermaga IV serta indikasi keretakan pada struktur trestle atau jembatan penghubung antara Dermaga IV dengan area penumpukan kontainer. Selain itu, terjadi pergeseran pada beberapa tumpukan peti kemas akibat guncangan hebat, namun untungnya tidak ada kontainer yang jatuh atau menimbulkan kerusakan signifikan pada barang maupun alat lainnya.

Beruntung, sepanjang kejadian gempa hingga proses evaluasi dan pemulihan operasional, tidak tercatat adanya insiden kecelakaan kerja maupun korban jiwa di lingkungan kedua terminal tersebut. Hal ini menjadi bukti efektivitas protokol tanggap darurat bencana yang diterapkan oleh pengelola pelabuhan. PT Pelindo Terminal Petikemas berkomitmen untuk terus memantau kondisi infrastruktur yang rusak dan segera melakukan perbaikan agar layanan kepelabuhanan dapat berjalan optimal tanpa gangguan lanjutan.

Dengan kembalinya operasional TPK Bitung dan Ternate, arus distribusi logistik antar-pulau di wilayah Indonesia Timur diharapkan dapat segera pulih sepenuhnya. Langkah cepat dan responsif dari berbagai pihak dalam menangani dampak gempa ini menunjukkan kesiapan infrastruktur maritim nasional dalam menghadapi bencana alam. Masyarakat dan pengguna jasa pelabuhan kini dapat kembali beraktivitas dengan tenang seiring dicabutnya peringatan dini tsunami dan dinyatakan amannya fasilitas pelabuhan oleh otoritas terkait. (Egi)